Makalah akhlak etika moral dan contohnya dalam kehidupan sehari hari

Konten [Tampil]
BAB II
PEMBAHASAN

1. ETIKA

A. Pengertian

Etika adalah suatu ajaran yang berbicara tentang baik dan buruknya yang menjadi ukuran 
baik buruknya atau dengan istilah lain ajaran tenatang kebaikan dan keburukan, yang 
menyangkut peri kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, 
dan alam.

Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa yunani, ”ethos” yang 
berarti watak kesusilaan atau adat. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, etika 
adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Etika menurut filasafat dapat 
disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan 
memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.

B. Etika Dibagi Atas Dua Macam

  • 1. Etika deskriptif 
Etika yang berbicara mengenai suatu fakta yaitu tentang nilai dan pola perilaku manusia 
terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya dalam kehidupan masyarakat.
  • 2. Etika Normatif
Etika yang memberikan penilaian serta himbauan kepada manusia tentang bagaimana harus 
bertindak sesuai norma yang berlaku. Mengenai norma norma yang menuntun tingkah laku 
manusia dalam kehidupan sehari hari.

Etika dalam keseharian sering dipandang sama denga etiket, padahal sebenarnya etika dan 
etiket merupakan dua hal yang berbeda. Dimana etiket adalah suatu perbuatan yang harus 
dilakukan. Sementa etika sendiri menegaskan bahwa suatu perbuatan boleh atau tidak. Etiket 
juga terbatas pada pergaulan. Di sisi yang lain etika tidak bergantung pada hadir tidaknya 
orang lain. Etiket itu sendiri bernilairelative atau tidak sama antara satu orang dengan orang 
lain. Sementa itu etika bernilaiabsolute atau tidak tergantung dengan apapun. Etiket 
memandang manusia dipandang dari segi lahiriah. Sementara itu etika manusia secara utuh.
Dengan ciri-ciri yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang 
berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan 
baik atau buruk. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan 
oleh akal manusia.

C. Etika Memiliki Peranan Atau Fungsi Diantaranya Yaitu: 

  1. Dengan etika seseorang atau kelompok dapat menegemukakan penilaian tentang perilaku manusia
  2. Menjadi alat kontrol atau menjadi rambu-rambu bagi seseorang atau kelompok dalam melakukan suatu tindakan atau aktivitasnya sebagai mahasiswa
  3. Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang.
  4. Etika dapat menjadi prinsip yang mendasar bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas kemahasiswaanya.
  5. Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan, santun, dan dengan etika kita bisa di cap sebagai orang baik di dalam masyarakat.

D. Etika Dalam Penerapan Kehidupan Sehari-hari

  • Contoh Etika bergaul dengan orang lain
a) Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat.
b) Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu 
pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya.
c) Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain. Berbicaralah kepada mereka 
sesuai dengan kemampuan akal mereka.
d) Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka.
e) Mema`afkan kekeliruan mereka dan jangan mencari-cari kesalahankesalahannya, dan 
tahanlah rasa benci terhadap mereka.

  • Contoh Etika bertamu
a) Untuk orang yang mengundang:
- Jangan hanya mengundang orang-orang kaya untuk jamuan dengan mengabaikan orangorang fakir.
- Jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena hal ini bertentangan dengan 
kewibawaan.
- Jangan kamu menampakkan kejemuan terhadap tamumu, tetapi tampakkanlah kegembiraan 
dengan kahadirannya, bermuka manis dan berbicara ramah.
- Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, karena yang demikian itu berarti 
menghormatinya.
- Disunnatkan mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan 
tamu yang baik dan penuh perhatian.
b) Bagi tamu:
- Hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang 
kaya, karena tidak memenuhi undangan orang faqir itu merupakan pukulan (cambuk) 
terhadap perasaannya.
- Jangan tidak hadir sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi hadirlah pada waktunya.
- Bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan rumah memaksa untuk tinggal 
lebih dari itu.
- Hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurang apa saja yang terjadi pada 
tuan rumah.
  • Contoh Etika di jalan
a) Berjalan dengan sikap wajar dan tawadlu, tidak berlagak sombong di saat berjalan atau 
mengangkat kepala karena sombong atau mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur.
b) Memelihara pandangan mata, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
c) Menyingkirkan gangguan dari jalan. Ini merupakan sedekah yang karenanya seseorang 
bisa masuk surga.
d) Menjawab salam orang yang dikenal ataupun yang tidak dikenal.
  • Contoh Etika makan dan minum
a) Berupaya untuk mencari makanan yang halal.
b) Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, dan begitu juga 
setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tanganmu.
c) Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan 
sekali-kali mencelanya.
d) Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur.
e) Hendaklah makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah 
kepada Allah, agar kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.
f) Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri 
dengan Alhamdulillah.
g) Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum.
  • Contoh Etika berbicara
  1. Hendaknya pembicaraan selalu di dalam kebaikan.. 
  2. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengahtengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda". (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
  3. Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu disebutkan: "Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: "Orang-orang yang sombong". (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
  4. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa.
  5. Menghindari perkataan jorok (keji).
  6. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu.
  7. Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
  8. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.
  •  Contoh Etika bertetangga
a) Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka.
b) Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka 
tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah 
merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.
c) Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak 
mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan 
nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
d) Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita.
e) Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia 
bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan 
mereka.
f) Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita.

  • Contoh Etika menjenguk orang sakit
a) Untuk orang yang berkunjung (menjenguk): 
- Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, dan mencari waktu yang tepat untuk 
berkunjung, dan hendaknya tidak menyusahkan si sakit, bahkan berupaya untuk menghibur 
dan membahagiakannya.
- Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat dan disehatkan.
- Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas taqdir Allah SWT.
b) Untuk orang yang sakit:
- Hendaknya segera bertobat dan bersungguh-sungguh beramal shalih.
- Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya adalah 
makhluk yang lemah di antara makhluk Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah 
Subhanahu wa Ta'ala tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan tidak mem-butuhkan 
ketaatannya.
- Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yang dilakukan olehnya, 
dan segera mem-bayar/menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada pemi-liknya, dan 
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
  • Contoh Etika Berbeda Pendapat
a) Ikhlas dan mencari yang hak serta melepaskan diri dari nafsu di saat berbeda pendapat.
b) Juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan nafsu.
c) Mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Al-Qur'an dan Sunnah.
d) Sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperuncing perselisihan, yaitu denga cara 
menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepadanya dengan 
tafsiran yang baik.
e) Berusaha sebisa mungkin untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah 
penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang.
f) Sedapat mungkin menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah dan fitnah.
g) Berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari perdebatan, bantah membantah 
dan kasar menghadapi lawan.
  • Contoh Etika Berkomunikasi Lewat Telepon
a) Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu‟alaikum, karena 
dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan 
salam dan juga menutupnya dengan salam.
b) Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai 
kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan istirahat, waktu 
makan dan bekerja. 
c) Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang 
dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain.
d) Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan tidak melantur 
berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, 
memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.

2. MORAL

A. Pengertian

Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos 
yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatan bahwa moral 
adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.

Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan 
batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat 
dikatakan benar, salah, baik atau buruk.

Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang 
digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) 
baik atau buruk, benar atau salah.

Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat 
mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama 
membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau 
buruk.

Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan. Pertama, 
kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk 
menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan moral tolak ukurnya yang 
digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di 
masyarakat. Dengan demikian etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam 
konsep-konsep, sedangkan etika berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah 
laku yang berkembang di masyarakat.
Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur tingkah laku 
manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya yang berlaku di masyarakat.

B. Perbedaan Antara Etika dan Moral 

Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. 
Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai 
untuk pengkajian system nilai yang ada.
Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa asing disebut 
conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut dengan qalb, fu'ad. 
Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal, yaitu:
  1. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral.
  2. Kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu perbuatan yang secara umumk dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang objektif dan dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat disetujui berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam situasi yang sejenis.
  3. Kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.
Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa moral lebih 
mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh 
masyarakat. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan 
memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang 
berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai 
tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka akan membentuk kesadaran 
moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu 
perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar.

3. AKHLAK

A. Pengertian

Ada dua pendekatan untuk mendefenisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik 
(kebahasaan) dan pendekatan terminologi (peristilahan). Akhlak berasal dari bahasa arab 
yakni khuluqun yang diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin 
menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat 
memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Sedangkan 
sebagaian ulama yang lain mengatakan akhlak itu adalah suatu sifat yang tertanam didalam 
jiwa seseorang dan sifat itu akan timbul disetiap ia bertindak tanpa merasa sulit (timbul 
dengan mudah) karena sudah menjadi budaya sehari-hari.

Akhlak yang baik akan mengangkat manusia ke derajat yang tinggi dan mulia. Akhlak 
yang buruk akan membinasakan seseorang insan dan juga akan membinasakan ummat 
manusia. Manusia yang mempunyai akhlak yang buruk senang melakukan sesuatu yang 
merugikan orang lain. Senang melakukan kekacauan, senang melakukan perbuatan yang 
tercela, yang akan membinasakan diri dan masyarakat seluruhnya. Nabi S.A.W.bersabda 
yang bermaksud: "Orang Mukmin yang paling sempurna imannya, ialah yang paling baik 
akhlaknya."(H.R.Ahmad). 

Nabi S.A.W.bersabda yang maksudnya:"Sesungguhnya aku diutus adalah untuk 
menyempurnakan budipekerti yang mulia."(H.R.Ahmad).
Wa innaka la'ala khuluqin 'adzim, yang artinya: ”Sesungguhnya engkau (Muhammad) 
berada di atas budi pekerti yang agung” (Al Qalam:4).

Ciri-Ciri Perbuatan Akhlak:
1) Tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2) Dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.
3) Timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa ada paksaan atau tekanan dari 
luar.
4) Dilakukan dengan sungguh-sungguh.
5) Dilakukan dengan ikhlas.

B. Macam-Macam Akhlak

1. Akhlak kepada Allah
a) Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembahNya sesuai 
dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikanketundukkan terhadap 
perintah Allah.
b) Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi,baik 
diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan 
dan ketentraman hati.
c) Berdo‟a kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do‟a merupakan inti ibadah, 
karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus 
pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu
d) Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil 
pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.
e) Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya 
rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup 
dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam 
melaksanakan ibadah kepada Allah.

2. Akhlak kepada diri sendiri 
a) Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil daripengendalian 
nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya.Sabar diungkapkan ketika 
melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.
b) Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung 
banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan 
adalah memuji Allah dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan 
dilakukan dengan menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.
c) Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, 
muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat 
iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.

3. Akhlak kepada keluarga
Akhlak terhadap keluarga adalah mengembangkann kasih sayang di antara anggota keluarga 
yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Akhlak kepada ibu bapak adalah berbuat baik 
kepada keduanya dengan ucapan dan perbuatan. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan 
dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain :
a) Menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara bertutur 
kata sopan dan lemah lembut
b) Mentaati perintah
c) Meringankan beban, serta
d) Menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha.

4. Akhlak kepada sesama manusia
a) Akhlak terpuji (Mahmudah)
1) Husnuzan
Berasal dari lafal husnun (baik) dan Adhamu (Prasangka). Husnuzan berarti prasangka, 
perkiraan, dugaan baik. Lawan kata husnuzan adalah suuzan yakni berprasangka buruk 
terhadap seseorang . Hukum kepada Allah dan rasul nya wajib, wujud husnuzan kepada Allah 
dan Rasul-Nya antara lain:
- Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasul Nya Adalah untuk 
kebaikan manusia.
- Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti berakibat buruk. 
Hukum husnuzan kepada manusia mubah atau jaiz (boleh dilakukan). Husnuzan kepada 
sesama manusia berarti menaruh kepercayaan bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan. 
Husnuzan berdampak positif berdampak positif baik bagi pelakunya sendiri maupun orang 
lain.
2) Tawaduk
Tawaduk berarti rendah hati. Orang yang tawaduk berarti orang yang merendahkan diri 
dalam pergaulan. Lawan kata tawaduk adalah takabur. Allah berfirman , Dan rendahkanlah 
dirimu terhadap keduanya, dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku! 
Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” 
(Q.S. Al Isra/17:24)
Ayat di atas menjelaskan perintah tawaduk kepada kedua orang tua.
3) Tasamu
Artinya sikap tenggang rasa, saling menghormati dan saling menghargai sesama manusia. 
Allah berfirman, ”Untukmu agamamu, dan untukku agamaku (Q.S.Alkafirun/109: 6)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa masing-masing pihak bebas melaksanakan ajaran agama 
yang diyakini.
4) Ta‟awun
Ta‟awun berarti tolong menolong, gotong royong, bantu membantu dengansesama manusia. 
Allah berfirman, ”...dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan 
takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan...”(Q.S. Al 
Maidah/5:2)

b) Akhlak tercela (Mazmumah)

1) Hasad
Artinya iri hati, dengki. Iri berarti merasa kurang senang atau cemburu melihat orang lain 
beruntung. Allah berfirman, ”Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah 
dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atassebagian yang lain.(Karena) bagi laki-laki ada 
bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari mereka 
usahakan.
Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya...” (Q.S. AnNisa/4:32)
2) Dendam
Dendam yaitu keinginan keras yang terkandung dalam hati untuk membalas kejahatan. Allah 
berfirman, ”Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan 
siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhlah itulah yang 
terbaik bagi orang yang sabar” (Q.S. An Nahl/16:126)
3) Gibah dan Fitnah
Membicarakan kejelekan orang lain dengan tujuan untuk menjatuhkan nama baiknya. 
Apabila kejelekan yang dibicarakan tersebut memang dilakukan orangnya dinamakan gibah. 
Sedangkan apabila kejelekan yang dibicarakan itu tidak benar, berarti pembicaraan itu 
disebut fitnah. Allah berfirman, ”...dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing 
sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang 
sudah mati? Tentu kamu merasa jijik...” (Q.S. Al Hujurat/49:12).
4) Namimah
Adu domba atau namimah, yakni menceritakan sikap atau perbuatan seseorang yang belum 
tentu benar kepada orang lain dengan maksud terjadi perselisihan antara keduanya. Allah 
berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu 
membawa suatu berita maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu 
kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” 
(Q.S. Al Hujurat/49:6).

D. PERBEDAAN ETIKA,MORAL DAN AKHLAK

Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau 
standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak 
berdasarkan Al Qur‟an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat 
istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat jika masyarakat menganggap 
suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai perbuatan itu. Dengan demikian standar nilai 
moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan 
abadi. Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa 
seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab 
keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari. Inilah yang menjadi misi 
diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya : “ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan 
akhlak manusia.”(Hadits riwayat Ahmad).
Secara umum dapat dikatakan bahwa akhlak yang baik pada dasarnya adalah
akumulasi dari aqidah dan syari‟at yang bersatu secara utuh dalam diri seseorang. Apabila 
aqidah telah mendorong pelaksanaan syari‟at akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata 
lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syari‟at Islam telah dilaksanakan 
berdasarkan aqidah.

0 Response to "Makalah akhlak etika moral dan contohnya dalam kehidupan sehari hari"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijaksana

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel